Novel | Fantasi : 1943

 Seorang perempuan berbalut sweater putih di tubuh mungilnya, berjalan terburu-buru keluar dari perpustakaan kota. Sesaat keluar dari bangunan itu, mulut tak henti menggerutu. Mengomel tentang keanehan orang yang tadi ia temui.


"Gila ya, orang-orang jaman sekarang makin aneh aja. Rajendra Chola apaan coba? Rajendra Chola mantan gue yang waktu SMA itu maksud lo?!"


"Lo kenapa?"


"Astagfirullah, ada ayam terbang!!"


Tepukan di pundak nya, mengejutkan perempuan sweater yang sedang mengomel itu. Perempuan itu mengelus dadanya yang berdebar lantaran dikagetkan dengan kedatangan seorang perempuan. Teman semasa kecilnya. 


"Ihhhhhhhh, Cici lo kenapa ngagetin gue, untung gue nggak punya riwayat sakit jantung loh!"


"Ya maaf, lagian kamu itu kenapa ngomong sendiri di depan perpustakaan. Kayak orang sakit jiwa." Balas perempuan yang dipanggil Cici oleh perempuan tadi. 


Dari awal perempuan itu keluar dari perpustakaan, Cici sudah memperhatikan dari sebrang jalan sambil membawa beberapa kantong yang berisi makanan. Karena penasaran, akhirnya Cici memutuskan untuk menghampiri sahabat nya itu.


"Gue tuh lagi kesal Ci!" Jawab perempuan itu dengan cepat.


Raut wajah dari perempuan itu dengan cepat berubah menjadi marah, hal itu membuat Cici penasaran. Karena itu, Cici pun bertanya, "Kesal kenapa, Anggi?"


"Aku itu kenapa sih nggak pernah ketemu dengan orang yang benar, kemarin ketemu dengan orang indihome-"


"Indigo, Anggi…" Koreksi Cici


"Nah iya, indigo. Teriak teriak mulu setiap baca buku. Nah sekarang, gue ketemu dengan orang yang tiba-tiba teriak Rajendra Chola, udah gitu pakai gitu acara nangis segala lagi, kan membuat orang lain terganggu Ciiiii!" Jerit Anggi tertahan. Keluh kesannya berujung emosi, Anggi pun menjambak rambut sendiri.


Cici hanya tertawa ringan sebagai balasan atas curhatan Anggi barusan. Cici bingung mau merespon curhatan bagaimana.


"Sabar Anggi, itu udah resiko. Kamu ini kayak baru ketemu orang yang begitu." Tambah Cici.


"Tapi, aku bukan Dokter Kejiwaan Ci! "


"Iya, gue juga tau." Ucap Cici, mengiyakan saja. Biar cepat selesai. Kalau dilanjutkan ini pasti tidak akan selesai. Maklum, jika wanita yang sudah bercerita.


"Anggi, gue udah kirim undangan ke Email lo ya. Jangan lupa dibaca."


"Hahh undangan?." Tanya Anggi dengan penasaran.


Tumben sekali, ia mendapatkan undangan langsung dari sahabat nya ini, biasanya dia dihubungi oleh manajer Cici. Jadi mau apa Cici memberikan undangan ini?


"Tenang aja, ini bukan pernikahan gue ya." Jawab Cici dengan bercanda, tapi ditanggapi serius oleh Anggi.


"Pernikahan? Hahh, siapa yang mau nikah? Abang lo mau nikah lagi?? Astagfirullah Cici, bilangin abang lo jangan nikah lagi!!!" Cerocos Anggi dengan cepat, bahkan Cici tidak diberikan kesempatan untuk menjelaskan.


"Nikah lagi palamu!"


Dengan gemasnya, Cici menarik pipi Anggi dengan santai nya. Akibat ucapan sembronya Anggi yang sembarangan menyimpulkan. Anggi pun mengelus pipinya yang habis dicubit.


"Kan udah gue bilang itu bukan undangan pernikahan, tapi undangan syukur anak pertama nya abang gue! Itu acaranya besok, lo nggak boleh sampai telat!" Jawab Cici dengan kesal. 


"Kok gue diundang juga?" Beo Anggi sambil mengusap kepalanya, Anggi tidak mengerti kenapa dia diundang. Karena biasanya dia tidak pernah datang undangan syukur dari sahabat nya ini. Lalu ia juga tidak tau bisa datang atau tidak, karena besok ia ada acara dan itu penting.


"Itu undangan khusus buat lo dari nyokap gue, katanya dia kangen sama lo. Makanya dia bikin undangan khusus dan lo harus datang. Kata Cici dengan tegas.


Kabar bahwa abang nya Cici akan memiliki anak pertama, sudah tersebar di antara teman-temannya dari tadi malam. Teman-temannya, termasuk Anggi sangat dekat dengan keluarga Cici. Jadi tidak heran kalau mereka mendapatkan undangan itu.


"Ci, tapi gue nggak tau bisa pergi atau nggak." Jawab Anggi sambil menatap Cici.


Tapi dengan percaya diri Cici menganggukan kepalanya.


"Lo pasti bisa pergi, harus pergi. Gue tunggu besok ya."


Mendapatkan jawaban seperti itu, membuat Anggi menghela nafas panjang. Melihat wajah Anggi yang keberatan, Cici pun bertanya apa penyebabnya. Pasti Anggi punya alasan yang kuat untuk menolaknya. 


"Lo kenapa nggak bisa datang?"


"Besok itu bertepatan dengan syukuran Ayla, masa gue nggak datang ke acara syukuran nya sih. Acara syukuran itu hanya selisih satu jam dari acara syukuran lo. Jawab Anggi, memberi tahu alasan mengapa dia menolak untuk pergi.


Ternyata itu alasan mengapa Anggi menolak untuk datang. Anggi harus datang ke syukuran Ayla sepupu nya. Anggi dan Ayla hanya terpaut lima tahun. Anggi bahkan menganggap Ayla sebagai adiknya sendiri.


"Anggi, gue tau itu penting buat lo. Tapi ini juga penting, lo bisa datang ke tempat gue habis dari tempat Ayla. Pasti Ayla nggak bakal keberatan ataupun sedih kan." Bujuk Cici. Siapa tau Anggi berubah pikiran. datang ke acara syukuran nya. 


Anggi saat ini sangat bimbang, ia berfikir sejenak. Memang sangat berat rasanya untuk memutuskan yang mana yang harus diutamakan. 


Anggi dengan ragu menjawab, "Tapi besok aku ada jadwal kuliah besok. Jadi itu gimana? Nggak mungkin aku nggak datang. Mana dosen nya galak banget."

"Anggi, lo tenang aja. Gue udah izin sama Bu Mika dari seminggu yang lalu."


Rasa ragu Anggi berganti menjadi rasa kaget. "Lahhhh, emangnya diizinkan sama Bu Mika? Terus kok nggak ada yang ngasih tau ke gue."


"Lo ingatkan, gue pernah cerita kalau gue dapat izin dari Bu Mika untuk nggak datang ke mata kuliah nya besok."


Anggi berusaha mengingat, kapan Cici pernah cerita tentang izin dia ke Bu Mika. Setelah diingat ingat lagi, ternyata benar kalau Cici pernah menceritakan tentang izin itu ke dia. Itu sudah seminggu yang lalu, wajar kalau Anggi lupa tentang itu.


Ohhhhh iya, gue ingat, tapi kok Bu Mika mau ngasih izin gitu?" Tanya Anggi 


Cici dengan santai menyedot green tea sebelum menjawab. " Ya bisa lah, kan yang izin itu abang gue. Dia tuh kan dosen senior nya Bu Mika."


"Wahh Ci, lo menggunakan kekuasaan orang dalam. Ajarin gue gimana cara menggunakan orang dalam kayak lo." Ujar Anggi dengan mata berbinar binar.


Ia senang mempunyai sahabat seperti Cici, selalu mempunyai banyak cara yang unik dan seru. Walaupun kadangkala Cici menjadi orang yang menyebalkan, selalu memancing emosi nya. 


" Ya lo, nikah aja dengan lektor baru yang ada di kampus. Dia sesuai dengan tipe lo banget loh." Goda Cici dengan raut wajah senang.


Kedua bahu Anggi terangkat, seakan kabar yang disampaikan oleh Cici adalah bencana alam untuknya. 


"Kenapa sih, lo suka banget menjodohkan gue dengan lektor baru itu. Gue tuh nggak suka ya sama tuh lektor."


"Karena lo sama tuh lektor cocok banget, jadinya pas gitu kalau disandingkan."


"Lambemu tuh ya, suka sembarangan kalau ngomong!" Sahut Anggi. 


Dengan perasaan kesal, akhirnya Anggi pun bersedia untuk datang ke acara syukuran itu.


Cici pun menghela nafas lega. Usahanya membujuk Anggi untuk datang, tidak berakhir sia-sia. 


"Ci, gue pulang dulu ya."


"Pulang? Cepat banget Gi."


Karena biasanya Anggi bisa menghabiskan enam jam hanya untuk membaca buku di perpustakaan kota. Dan saat ini waktu masih menunjukkan pukul dua belas siang. Itu berarti Anggi baru berada di perpustakaan itu sekitar dua jam.


"Kan hari ini acara kelulusan Ayla. Jadinya gue mau pulang cepat."


"Oh iya, hari ini Ayla lulus, pantas aja dia mengadakan acara syukuran besok. Seminggu lagi dia akan berangkat ke Inggris. Ayla mendapatkan beasiswa di Oxford University kan?" Ucap Cici lengkap dengan menyebutkan nama Universitas yang terkenal di Inggris. 


"Iya Cici."


"Sampaikan selamat dari gue buat Ayla. Anak itu pintar banget." Kagum Cici akan prestasi yang Ayla dapatkan. 


Sangat jarang ada anak seperti Ayla, berasal dari keluarga ekonomi rendah. Tapi bisa mendapatkan beasiswa universitas ternama di Inggris. 


"Siap, bakal gue sampaikan kok. Kalau gitu gue pamit dulu ya, dadah Cici." Pamit Anggi dengan cepat dan mulai beranjak dari sana.


Tetapi sebelum sosok Anggi menghilang dari pandangannya, Cici mengingatkan sekali lagi, tentang undangan yang sudah ia kirim melalui Email. 


"Anggi, jangan sampai lupa untuk melihat undangan yang sudah ku kirimkan!" 


"Santai Ci, itu mah aman." Sahut Anggi balik, tanpa melihat ke belakang. Kakinya terus melangkah. 


Di perjalanan menuju mobilnya yang terparkir di samping gedung perpustakaan, Anggi menyapa beberapa orang yang ia kenali. Mulai dari penjaga perpustakaan, penjaga parkiran, sampai beberapa pedagang kaki lima yang sering ia kunjungi saat lapar. Anggi juga tak sengaja bertemu dengan seorang pria yang baru beberapa hari ia kenal di area perpustakaan kota ini. Pia itu berjalan berlawanan arah dengannya. 


"Eh Nizar, mau minjam buku lagi ya? Yang kemarin sudah selesai dibaca?" Sapa Anggi, Nizar selalu datang ke perpustakaan kota setiap hari untuk mengembalikan dan meminjam buku lagi. Itu sudah menjadi rutinitas.


"Iya kak." Jawab Nizar ramah, ditangan nya ada dua buku yang dibawa Nizar untuk dikembalikan. Karena Anggi selalu melihat Nizar datang dengan buku ditangan nya. "Kalau kakak mau kemana? Kenapa terburu-buru?"


"Kakak mau pergi untuk menghampiri acara kelulusan adiknya kakak." Balas Anggi sambil memperhatikan jam tangannya. Padahal kalau dipikirkan lagi, Nizar tidak bertanya sebanyak itu kepada Anggi. 


"Kalau gitu, selamat ya untuk adiknya. Congrats!"


"Thanks, ya Zar. Kalau gitu kakak pergi dulu ya, bye bye. Kalau bawa bukunya hati-hati ya."


Nizar hanya tertawa kecil menanggapi ucapan Anggi. "Iya kak, bye . . . Hati-hati kak!"


"Okidoki."


Perjalanan Anggi terus berlanjut, melewati banyak bangunan tua, ya perpustakaan yang selalu didatangi Anggi adalah perpustakaan kota tua. Sampailah Anggi di area parkiran, ia pun melanjutkan langkah kakinya menuju mobil yang warnanya berbeda dari yang lain. Sesampainya Anggi didepan mobilnya, ia menemukan sebuah surat yang terselip diantara wipper mobilnya.


Anggi segera mengambil surat itu. Saat melihat surat itu secara keseluruhan, alis Anggi saling bertautan. Ia merasa aneh dengan bentuk surat yang berada di tangannya saat ini, surat ini sangat berbeda dari surat pada umumnya.


"Kata Cici undangan nya bakal dikirim melalui Email, kok ini malah ada di wipper mobil gue?" Ujar Anggi, pandangan nya tidak lepas dari surat aneh yang sedang ia pegang. 


"Biarin aja lah. Mungkin Cici lupa udah taruh undangan nya di wipper mobil gue." Memilih tidak mau ambil pusing, dengan cepat ia memasukan undangan itu ke dalam tasnya.


Anggi masuk ke dalam mobil dan mulai menuju ke sekolah Ayla. Selain menjadi walidi acara kelulusan Ayla, Anggi juga dimintai tolong oleh kepala sekolah untuk menjadi pembicara dalam acara kelulusan tersebut. Sebagai alumni yang baik, tentu saja Anggi langsung menerimanya. Ia senang berbagi pengalaman nya selama menempuh pendidikan disana.


Perjalanan menuju sekolah Ayla menghabiskan waktu sekitar sepuluh menit. Waktu Anggi sampai, acara baru saja dimulai. Di atas podium panggung, Anggi dengan percaya diri menyampaikan pengalaman nya kepada semua siswa. Berbicara dihadapan orang ramai tidaklah susah untuknya. Mengingat ia adalah seorang mahasiswa ilmu komunikasi, sering turun langsung, untung berkomunikasi langsung dengan masyarakat.


"Semua pengorbanan kalian, terbalas dengan berdirinya kalian disini. Saya mengucapkan selamat atas kelulusan kalian semua, kalian adalah murid murid yang membanggakan sekolah, bangsa dan negara. Setelah acara kelulusan ini selesai, saya mendoakan yang terbaik untuk kalian!"


Serentak kata amin menggema di seluruh ruangan. Semua yang ada di ruangan itu mengaminkan doa dari Anggi itu. Anggi tersenyum tulus dihadapan siswa-siswi.


Acara kelulusan sudah berakhir, Anggi dan Ayla baru bisa bertemu dengan bebas. Didepan gedung aula sekolah, Anggi dan Ayla berpeluang dengan erat. Rasa bangga Anggi terhadap Ayla meluap luap. Bisa melihat Ayla bisa lulus, itu sangat membahagiakan untuk Anggi. 


"Selamat Ay, gila gue senang banget. Cieeeeee, yang bakal lanjut kuliah di Oxford University. Siapa tau ada bule yang kecantol sama lo ya ay!" Goda Anggi, menaik turunkan alisnya. 


Pipi Ayla terdapat selaput berwarna merah. "Ihhhhhhh, kakak bisa aja deh!"


Anggi tersenyum melihat Ayla bisa memancarkan kebahagiaan dari raut mukanya. Kebahagiaan Ayla adalah kebahagiaan Anggi. 


"Besok kamu ngadain syukuran dirumah kan. Maafin kakak ya, mungkin nggak bisa datang ke acara syukuran kamu." Sesal Anggi.


Sorotan mata Ayla yang awalnya terfokus dengan buket coklat, langsung beralih kepada Anggi. 


"Kakak, kan Ayla udah bilang kalau itu nggak masalah, kita itu bisa ketemu selama seminggu loh. Kalau hanya satu hari bukan masalah besar loh." Pinta Ayla sambil menatap mata Anggi. 


"Tentu saja Ay, makasih banyak loh udah mengerti." Ucap Anggi dengan semangat.


Dua perempuan itu saling tertawa ringan dan berpelukan.


"Kak, aku senang banget, akhirnya bisa lulus. Kira-kira aku bisa nggak ya, menyelesaikan studi di Oxford University." Ucap Ayla dengan ragu. Mendadak topik pembicaraan mereka berubah.


Anggi menggenggam tangan Ayla dengan yakin. "Bisa kok, pasti bisa. Kakak percaya kamu pasti bisa menjadi lulusan terbaik di Oxford University. Bahkan kamu bisa melampaui kakak."


"Hebatnya kayak Ibu Iriana Joko Widodo nih?" Jawab Ayla sambil tertawa kecil, di matanya muncul binar binar kecil. Ucapan Anggi tadi mendorong sekaligus doa untuk Ayla. 


"Kelak kamu pun bakal menemukan Jokowi mu versi dirimu." Doa Anggi untuk Ayla di kemudian hari. Senyuman haru menghiasi muka Anggi, ia menatap Ayla sambil mengucapkan doa nya di dalam hati.


Untuk sekian kalinya, Ayla tertawa. Kali ini tawanya terdengar meremehkan, seperti tidak yakin dengan apa yang diucapkan Anggi kali ini.


"Kakak ini ada ada saja, mana ada Jokowi di Inggris! Jokowi itu ada nya di Indonesia kak!"


"Kalau beneran ada gimana?" Ucap Anggi dengan serius, itu mampu membuat Ayla terdiam.


"Nggak mungkin lah kak, mana ada yang kayak gitu. Kakak ini mentang mentang Ay penggemar berat kisahnya Ibu Iriana Joko Widodo. Jadinya di sama-samain. Gerutu Ayla, bibir Ayla sudah maju. Itu menunjukkan betapa kesalnya ia atas ucapan Anggi. 


Menurutnya, ucapan Anggi terlalu tidak masuk akal. Tidak mungkin ada yang mau dengannya yang berasal dari keluarga sederhana. Apalagi laki-laki seperti Bapak Jokowi, ia bukan Ibu Iriana yang merupakan sosok istri sempurna dan juga cantik. Mereka tidak memiliki kesamaan sama sekali, dari segi ekonomi, kepintaran ataupun sifatnya. 


"Loh, kok jadi salah kakak. Kan kamu duluan yang bahas tentang Ibu Iriana." Balas Anggi, ia tidak mau disalahkan. 


Setelah dipikir ulang, memang benar, yang memulai semuanya adalah Ayla. Karena itu, akhirnya Ayla memilih untuk diam dan mengalihkan topik pembicaraan. 


●●●


Keesokan paginya, Anggi bersiap siap untuk menuju ke acara syukuran yang kata oleh Cici. Ia membawa satu koper yang berisi baju, kamera digital, makeup, dan beberapa pasang sepatu. Selesai sarapan Anggi, mulai memasukan koper nya ke bagasi mobil. Setelah selesai, Anggi mulai memasuki mobil. Didalam mobil Anggi menyempatkan diri untuk mengirimkan pesan kepada Ayla, apakah acara syukuran nya sudah dimulai. 


Setelah mendapatkan jawaban nya, Anggi mulai menjalankan mobilnya. Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi, ia mempercayakan rumah nya kepada pembantu dirumah nya.


Entah mengapa ia merasa akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, hatinya mulai ragu untuk pergi. Hampir saja dia membatalkan rencananya untuk pergi ke rumah Cici. Ia memaksakan dirinya untuk pergi, walau hatinya tidak tenang.


Roda mobil yang ditumpangi mulai bergerak. Di perjalanan, Anggi memperhatikan undangan yang ia dapatkan di wipper mobil. Memeriksa apakah undangan ini benar adanya."


"Ini undangan aneh banget, masa bentuknya kayak undangan jaman dulu gitu sih." Ujar Anggi, sesekali ia melirik undangan yang ada di tangannya itu. Bentuk undangan ini sangat polos, warna kerasnya kusam, kertasnya kasar. Tidak seperti undangan pada umumnya. 


"Ketika Anggi membuka dan membaca undangan itu. Mata Anggi sedikit membesar, alisnya saling bertautan. Ia bingung dengan apa yang dia lihat saat ini. Alamat undangan ini berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Cici, kemarin Cici bilang kalau alamat tempatnya adalah di samping taman kota. Tapi di undangan ini, alamatnya bukan di samping taman kota.


"Lah ini gimana sih, kok beda dari yang dibilang oleh Cici!" Gumam Anggi. Meski kesal ia tetap fokus mengemudikan mobil, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak inginkan. 


Dari pada menggerutu, akhirnya Anggi memutuskan untuk menghubungi Cici. Untuk menanyakan lokasi tempat acara syukuran nya berlangsung. Ia hanya takut tersesat.


Tut . . Tut . . Tut . . Tut- Tut!!


Tumben sekali Cici tidak mengangkat panggilan suara darinya. Biasanya Cici selalu mengangkat kalau telpon. Ini sangat langka terjadi.


"Mungkin saja, dia sibuk banget. Karena hari ini acara syukuran itu diadakan." Pikir Anggi dengan maklum.


Memikirkan kemungkinan yang ada, itu masuk akal dan bisa dimaklumi. Tapi, kalau semisalnya Cici sengaja tidak mengangkat panggilan suara darinya, ia akan mendiamkan Cici selama sebulan.


Anggi menghela nafas, stir kemudi mobil, dipukulnya. "Uhhhhhhhhhh! Ya sudahlah, ikuti saja alamat yang ada di undangan ini."


Pasrah dengan keadaan yang ada, Anggi pun mulai mengikuti alamat yang tertera disana. Saat sampai disana, ia baru bisa mengetahui apakah itu benar atau tidak.


●●●


Setelah sekian lama mengendarai mobil sendirian, akhirnya mobil itu berhenti disebut bangunan kuno, rumah ini seperti rumah Belanda jaman dulu. Rumah tua ini berdiri di pinggiran kota yang terlihat sepi dan sunyi.


Untuk sekali lagi, Anggi membaca kembali sandang nya. "Ini benar kok, tapi kenapa gue nggak yakin dengan ini rumah ya?"


Rasa ragu di hatinya mulai menggerogoti, sejenak ia memandang bangunan yang sepertinya tidak berpenghuni. Anggi juga tidak melihat ada orang orang yang berlalu lalang. Disini tidak terdapat sebuah acara, biasanya akan banyak kendaraan yang keluar masuk.


Tapi ini sebaliknya, tidak ada kendaraan, tidak ada orang selain dirinya. Ini terlalu sepi untuk sebuah acara syukuran. 


Anggi berdiri di dekat mobilnya sambil memperhatikan bangunan di depannya ini. Ternyata tidak jauh dari sana ada Cici dengan seorang kakek kakek. 


Anggi melangkah mendekati kedua orang tersebut. "Ci, kok ini sepi banget ya. Orang-orang pada kenapa, terus kenapa bangunan nya terlihat tua banget."


Cici dan seorang kakek, secara bersamaan mereka menoleh ke arah Anggi. Ekspresi Anggi dan Cici terlihat kebingungan, sedangkan sang kakek itu hanya melihat dengan tatapan datar.


"Gue nggak tau juga Gi, padahal gue mau menghadiri acaranya. Tadi pagi gue dikasih tau sama nyokap, kalau tempat syukuran nya pindah. Terus gue dapat undangan ini di atas kasur gue." Jawab Cici, ia mengeluarkan undangan yang ia dapatkan tadi. 


"Kok undangan punya undangan yang sama? Gue juga dapat undangan itu di wipper mobil gue." Balas Anggi sambil mengeluarkan undangan yang sama.


Anggi dan Cici saling bertatap tatapan, seakan akan mereka berbicara menggunakan kontak mata saja. Seakan menyadari sesuatu Anggi memutuskan kontak matanya dengan Cici, ia memperhatikan sekeliling. Seakan akan sedang mencari sesuatu. 


"Ehh Ci, lu liat liat nggak kemana pergi nya kakek kakek yang mukanya datar itu?" 


Setelah mendengarkan Anggi berbicara, raut muka Cici berubah tampak seperti orang kebingungan. "Hahh kakek kakek datar yang mana? Disini cuma ada kita berdua loh nggak ada yang lain Anggi! Lo jangan nakutin gue ya." Seru Cici 


"Itu loh kakek kakek yang tadi sama lo, masa lo nggak sih. Tadi berdua sama lo kok." Ucap Anggi dengan yakin.


"Nggak ada Anggi! Gue dari tadi sendirian kok, nggak ada orang lain selain gue." Jelas Cici. Raut wajah Cici berubah dari lagi, sekarang raut wajahnya menunjukkan ekspresi kesal. 


"Yaudah yuk kita masuk kerumah itu, siapa tau ada orang disana. Mungkin kita bisa bertanya tentang undangan ini." Ucap Anggi, mereka berdua berjalan menuju rumah tua itu.


"Rumahnya kayak yang ada di film jaman dulu nggak sih? Ini kayak rumah Belanda yang ada di film jaman dulu." Cici memperhatikan setiap interior rumah itu, rumah ini sedikit bercampur dengan suku Jawa.


"Cici sayang, ini memang rumah peninggalan Belanda. Tapi ya Ci, ni rumah kayaknya ada blasteran Belanda dan Jawa. Kata Anggi dengan terkikik geli. Bentuknya menunjukkan peninggalan Belanda, mulai dari jendela yang besar dan tinggi sampai terdapat taman kecil yang berada di sebelah kiri rumah itu. Tapi di pintu dan jendela rumah itu terdapat ukiran ukiran yang indah. 


"Lu kira ini orang! Pakai ada blasteran Belanda dan Jawa segala. Tapi kalau dilihat ni rumah kayaknya masih ada yang merawat deh, disini sejuk banget ya." Tutur Cici 


Saat mereka sedang asik mengobrol, tiba-tiba pintu didepan mereka terbuka dengan sendirinya. Mereka berdua langsung refleks membalikkan badannya.


Kriiieeetttt . . . .


Pintu terbuka dengan perlahan, dibalik pintu itu berdiri sesosok orang. Mereka berdua yang melihat sosok itu pun langsung ketakutan, mereka saling berpelukan dan menutup mata.


Siapakah sosok yang barusan dilihat oleh Cici dan Anggi?


●●●


continued . . . .


Komentar